Pencegahan Penyakit Tipes

Pencegahan demam tifoid harus dimulai dari higiene perorangan dan lingkungan, misalnya mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, sesudah buang air, tidak buang air besar ataupun air kecil sembarangan, membuang sampah pada tempatnya, menutup hidangan makanan sehingga terhindar dari lalat, mencuci lalapan atau buah-buahan segar secara bersih.

Saat ini vaksinasi demam tifoid tersedia 2 pilihan yaitu vaksin hidup yang dilemahkan (Ty21A) dan vaksin polisakarida Vi. Vaksinasi ini ditekankan pemberiannya bagi kita yang tinggal didaerah endemik ataupun bagi turis yang akan masuk ke daerah endemik.

Vaksin-vaksin tifoid ini hanya memberikan perlindungan atas infeksi Salmonella typhii tidak pada bakteri lainnya. Namun, meskipun kita sudah diberi vaksin ini, tidak sepenuhnya terbentuk perlindungan terhadap penyakit demam tifoid. Kita masih tetap harus menghindari sumber infeksi, karena daya lindung vaksin tifoid hanya sekitar 50% – 70%.

1. Vaksin Tifoid Oral

Vaksin Ty21A berupa kapsul yang diberikan kepada orang dewasa dan anak berumur lebih dari 6 tahun. Cara pemberiannya dengan 4 dosis, selang 1 hari (hari 1 – 3 – 5 – 7), pemberian ulangan diakukan tiap 5 tahun. Bagi turis yang hendak masuk daerah endemik, vaksin diberikan 1 minggu sebelum berangkat. Respon imun akan terbentuk 10 – 14 hari setelah dosis terakhir. Kapsul ditelan utuh sebelum makan dan diminum dengan air dingin (suhunya tidak lebih dari 37 derajat Celcius).

Yang perlu diperhatikan dalam pemberian vaksin ini adalah tidak boleh dilakukan saat sedang demam, tidak boleh dilakukan pada orang dengan penurunan sistem kekebalan tubuh (HIV, keganasan, sedang kemoterapi, atau sedang terapi steroid) dan riwayat reaksi anafilaksis (alergi) pada pemberian dosis pertama serta tidak boleh kepada orang dengan alergi gelatin.

Apabila seseorang sedang mengalami gangguan pencernaan, pemberian vaksin harus ditunda. Penggunaan antibiotik harus dihindari 7 hari sebelum atau sesudah pemberian vaksin. Obat antimalaria ditunda pemberiannya setelah hari ke-3 setelah dosis terakhir. Selain itu, vaksin tifoid oral tidak boleh diberikan bersamaan dengan vaksin polio oral, jarak antar pemberian sebaiknya 2 minggu.

Efek samping yang ditimbulkan oleh vaksin ini cukup ringan, yaitu berupa muntah, diare, demam, dan sakit kepala. Dengan efektivitas vaksin yang lebih tinggi dan disertai efek samping yang lebih rendah daripada jenis vaksin tifoid lainnya, maka vaksin tifoid oral ini merupakan pilihan utama. Sayangnya, vaksin oral belum tersedia di Indonesia.

2. Vaksin Tifoid Polisakarida Vi

Vaksin ini berasal dari polisakarida Vi dari kapsul Salmonella typhii. Cara pemberiannya cukup mudah, yaitu dosis 1 kali suntikan intramuskuler atau dalam otot, biasanya di lengan atas untuk orang dewasa atau di paha atas bagi anak-anak. Sebaiknya, suntikan diberikan 2 minggu sebelum berkunjung ke daerah endemik dengan ulangan pemberian setiap 3 tahun. Respon imunitas akan terbentuk dalam 15 hari sampai 3 minggu setelah imunisasi.

Vaksin ini dapat diberikan pada orang dengan gangguan imunitas (daya tahan tubuh). Keadaan yang dihindarkan saat pemberian vaksin adalah jangan diberikan sewaktu demam, riwayat alergi, dan keadaan penyakit akut.

Efek samping yang timbul berupa demam, pusing, sakit kepala, nyeri sendi, nyeri otot tempat suntikan dan reaksi-reaksi alergi seperti timbul bintik kemerahan dan gatal.


=====================================

>>> Kapsul Herbal Tipes Untuk Mengobati Penyakit Tipes, Antibiotik, Meningkatkan Kekebalan Tubuh Sekaligus Meredakan Gejala-Gejala Yang Menyertainya, Klik Detail Disini!
=====================================


This entry was posted in Penyakit Tipes and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>